MAKALAH BAHASA INDONESIA
TENTANG
KELAS KATA
Oleh : Mochammad Koko Zakaria
Sekolah : SMK AL-Huda Turalak
KATA
PENGANTAR
Tiada kata dan
tindakan dengan ketulusan hati untuk diungkapkan selain ungkapan
syukur dan pujian kepadaTuhan yang maha Esa, kerena berkat pertolongan-Nya
kami dapat menyelesaikan tugas Makalah yang berjudul “Kelas Kata
atau Kategori Kata”.
Sebagai manusia
biasa yang tidak akan luput dari kesalahan dan kekeliruan, saya sadar akan penulisan
ini terdapat kesalahan, ketidak lengkapan, atau kekurangan. Maka saya sebagai
penulis mohon partisipasinya guna mengoreksi penulisan ini agar lebih layak dan
dapat di terima oleh halayak banyak. Kritik dan saran yang
membangun pada yang mendekati kesempernaan dalam makalah saya (Kelas Kata
atau Kategori Kata).
Akhir kata hanya
kepada-Nyalah kami mengharap agar malakalah ini dapat bermanfaat dan dapat
di manfaatkan dalam kebaikan. Amin.
Ciamis, 21 Juli 2016
penulis
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Kelas kata menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
adalah kelas atau golongan (kategori) kata berdasarkan bentuk, fungsi atau
maknanya. Untuk menyusun kalimat yang
baik dan benar, pemakai bahasa harus mengenal jenis dan fungsi kata.
Hal yang menyebabkan kalimat menjadi bidang kajian bahasa yang penting tidak lain
karena melalui kalimatlah seseorang dapat menyampaikan maksudnya dengan jelas.
Satuan bahasa yang sudah kita kenal sebelum sampai pada tataran kalimat adalah
kata (misalnya tidak) dan frasa atau kelompok kata. Kedua bentuk itu, kata dan
frasa, tidak dapat mengungkapkan suatu maksud dengan jelas, kecuali jika
keduanya sedang berperan sebagai kalimat. Untuk dapat berkalimat dengan baik,
perlu kita pahami terlebih dahulu struktur dasar suatu kalimat.
Kalimat adalah bagian ujaran yang mempunyai struktur
minimal subyek (S) dan predikat (P) dan intonasinya menunjukkan bagian ujaran
itu sudah lengkap dengan makna. Intonasi final kalimat dalam bahasa tulis
adalah berupa tanda baca titik (.), tanda tanya (?), atau tanda seru (!).
penetapan struktur minimal subyek dan predikat dalam hal ini menunjukkan bahwa
kalimat bukanlah semata-mata gabungan atau rangkaian kata yang tidak mempunyai
kesatuan bentuk. Lengkap dengan makna menunjukkan sebuah kalimat harus
mengandung pokok pikiran yang lengkap sebagai pengungkap maksud penuturannya.
v Rumusan Masalah
Berdasarkan
permasalahan diatas, maka diajukanlah suatu rumusan masalah sebagai berikut :
a.
Apa
penting pengklasifikasian kata dalam bahasa Indonesia?
b.
Seberapa
penting menguasai kelas kata dalam bahasa Indonesia?
v Tujuan
Sesuai
dengan rumusan masalah diatas, secara umum tujuan makalah ini adalah sebagai
berikut :
a.
Untuk
bisa mengklasifikasikan kata dalam bahasa Indonesia
b.
Untuk
bisa menguasai kelas kata dalam bahasa Indomesia
BAB 2
PEMBAHASAN
1. KELAS KATA
Kelas kata (jenis kata) adalah
golongan kata dalam suatu bahasa berdasarkan kategori bentuk, fungsi, dan makna
dalam sistem gramatika. Untuk menyusun kaimat yang baik dan benar, pemakaian
bahasa harus mengenal jenis dan fungsi kata.
Fungsi
kelas kata:
a. Melambangkan pikiran atau gagasan yang
abstrak menjadi konkret,
b. Membentuk bermacam-macam struktur kalimat,
c. Memperjeas makna gagasan kalimat,
d. Membentuk satuan makna sebuah frasa, klausa,
atau kalimat,
e. Membentuk gaya pengungkapan sehingga
menghasilkan karangan yang dapat dipahami dan dinikmati oleh orang lain,
f. Mengungkapkan berbagai jenis ekspresi, antara
lain: berita, perintah, penjelasan, argumentasi, pidato-pidato dan diskusi,
g. Mengungkapkan berbagai sikap, misalnya:
setuju, menolak, dan menerima.
Kelas kata bahasa
indonesia :
1. Verba
Berdasrkan
bentuk kata (morfologis), verba dapat dibedakan menjadi :
1) Verba
dasar (tanpa afiks), misalnya : makan, pergi, minum, duduk, dan tidur.
2) Verba Turunan terdiri dari :
a) Verba dasar + afiks (wajib), misalnya:
menduduki, mempelajari, menyanyi.
b) Verba dasar + afiks (tidak wajib), misalnya:
(mem)baca, (men)dengar, (men)cuci.
c) Verba dasar (terikat afiks) + afiks (wajib),
misalnya: bertemu, bersua, mengungsi.
d) Duplikasi atau bentuk ulang, misalnya:
berjalan-jalan, minum-minum.
e) Majemuk, misalnya cuci mata, naik haji, belai
kasih.
Berdasarkan
Fungsi, Verba digolongkan sebagai berikut :
a) Verba sebagai objek
b) Verba sebagai subjek
c) Verba sebagai pelengkap
d) Verba sebagai keterangan
2. Adjektif
Adejktiva
ditandai dengan dapat didampingkannya kata lebih, sangat, agak, dan paling.
Berdasarkan bentuknya, adjektiva dibedakan menjadi:
a)
Adjektiva dasar, misalnya: baik, adil, dan boros.
b)
Adjektiva turunan, misalnya; alami, baik-baik dan sungguh-sungguh
c) Adjektiva paduan
kata (frasa) ada dua macam yaitu :
1)
Subordinatif,
jika salah satu kata menerangkan kata lainnya, misalnya: Panjang tangan, buta
warna, murah hati.
2)
Koordinatif,
setiap kata tidak saling menerangkan, misalnya: gemuk sehat, cantik jelita, dan
aman sentosa.
3. Nomina
Nomina
adalah ditandai dengan tidak dapatnya bergabung dengan kata tidak, tetapi dapat
dinegatifkan dengan kata bukan, contoh : tidak kekasih seharusnya bukan
kekasih. Nomina dapat dibedakan sebagai berikut :
1)
Berdasarkan bentuknya, nomina dibedakan atas :
a.
Nomina dasar, misalnya: rumah, orang, burung, dan sebagainya
b.
Nomina turunan :
Ke- : Kekasih, kehendak
Per- : Pertanda, Persegi
Pe- : petinju, petani
Peng- : pengawas, pengacara
-an : tulisan, bacaan
Peng-an : penganiayaan, pengawasan
Per-an : persatuan, perdamaian
Ke-an : kemerdekaan, kesatuan
2)
Berdasarkan subkategori
a.
Nomina
bernyawa (contoh: kerbau, sapi, manusia) dan tidak bernyawa (contoh: bunga,
rumah, sekolah)
b.
Nomina
terbilang (contoh: lima orang mahasiswa, tiga ekor kuda) dan tak terbilang
(contoh: air laut, awan)
4. Pronomina
Pronomina
adalah kata yang dipakai untuk mengacu ke nomina lain, berfungsi untuk
mengganti nomina. Ada 3 macam Pronomina, yaitu:
1.
Pronomina
persona adalah pronomina yang mengacu kepada orang.
2.
Pronomina
petunjuk: pronomina petunjuk umum ialah, ini, itu, dan anu; Pronomina petunjuk tempat sini, sana, situ.
3.
Pronomina
penanya adalah Pronomina yang digunakan sebagai pemarkah (Penanda)
pertanyaan.
Dari segi makna, ada tiga jenis yaitu :
·
Orang
siapa.
·
Barang
apa menghasilkan turunan mengapa, kenapa, dengan apa.
·
Pilihan
mana menghasilkan turunan di mana, ke mana, dari mana, bagaimana dan bilamana.
5. Numeralia
Numeralia
dapat diklasifikasikan berdasarkan Subkategori :
1. Numeralia takrif (tertentu) terbagi atas :
a.
Numeralia
pokok ditandai dengan jawaban Berapa? Satu, dua, tiga, dst.
b.
Numeralia
tingkat ditandai dengan jawaban Yang ke berapa?
c.
Numeralia
Kolektif ditandai dengan satuan bilangan, misalnya: lusin, kodi, meter.
2.
Numeralia tak takrif (tak tentu), misalnya: beberapa, berbagai, segenap.
6. Adverbia
Adverbia
adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adjektiva, nomina predikatif,
atau kalimat. Dalam kalimat, adverbia dapat didampingi adjektiva, numeralia,
atau proposisi.
Berdasarkan
bentuknya, adverbia terbagi atas :
1.Bentuk
tunggal (monomofermis): sangat, hanya, lebih, segera, agak, dan akan. Misalnya
:
a.
Orang
itu sangat bijaksana.
b.
Ia
hanya membaca satu buku, bukan dua.
2. Bentuk
jamak (polimofermis) : belum tentu, benar-benar, jangan-jangan, kerap kali,
lebih-lebih, mau tidak mau, mula-mula. Misalnya :
a.
Mereka
belum tentu pergi hari ini.
b.
Mereka
benar-benar mendatangai perpustakaan kampus.
7. Interogative
Interogavita
berfungsi menggantikan sesuatu yang hendak diketahui oleh pembicara atau
mengukuhkan sesuatu yang telah diketahuinya. Contoh: apa, siapa, berapa, mana,
yang mana, mengapa, dan kapan.
Misalnya:
a. Berapa
uang yang kau perlukan?
b. Yang
mana rumah orang itu?
8. Demontrativa
Demonstrativa
berfungsi untuk menunjukkan sesuatu di dalam atau di luar wacana. Sesuatu
tersebut disebut anteseden. Contoh: ini, itu, di sini, di situ, berikut, dan
begitu.
Misalnya:
a. Di
sini, kita akan berkonsentrasi menghasilkan karya terbaik kita.
b. Bukti
ini merupakan indikator bahwa orang itu berniat baik.
9. Artikula
Artikula
berfungsi untuk mendampingi nomina dan verba pasif. Contoh: si, sang, sri,
para, kaum, dan umat.
Misalnya:
a. Si
Kecil itu selalu datang merengek-rengek minta sesuatu.
b. Sang
penyelamat akan datang saat kita perlukan.
10. Proposisi
Preposisi
adalah kata yang terletak di depan kata lain sehingga berbuntuk frasa atau
kelompok kata.
1.
Preposisi dasar: di, ke, dari, pada, demi, dan lain-lain.
Contoh:
Demi kemakmuran bangsa, mari kita tegakkan hukum dan keadilan.
2.
Preposisi turunan: di antara, di atas, ke dalam, kepada, dan lain-lain.
Contoh: Di
antara calon peserta lomba terdapat nama seorang peserta yang sudah menjadi
juara selama dua tahun.
11. Konjungsi
Konjungsi
berfungsi untuk menghubungkan bagian-bagian kalimat atau kalimat yang satu
dengan kalimat lain dalam suatu wacana. Konjungsi dikelompokkan menjadi dua,
yaitu :
1.
Konjungsi intrakalimat: agar, atau, dan, hingga, sedang, sehingga, serta,
supaya, tetapi, dan sebagainya. Contoh:
a.
Ia
belajar hingga larut malam.
b.
Mereka
bekerja keras sehingga berhasil mendapatkan cita-citanya.
2.
Konjungsi ekstrakalimat : jadi, di samping itu, oleh karena itu, oleh sebab itu,
dengan demikian, walaupun demikian, akibatnya, tambahan pula, dan sebagainya.
Contoh :
a.
Pengusaha
itu karya dan dermawan. Oleh karena itu, ia dihormati oleh tetangga di sekitar
rumahnya.
b.
Kualitas
pendidikan kita tertinggal dari negara maju. Oleh sebab itu, kita harus bekerja
keras untuk mengejar ketinggalan ini.
12. Fatis
Fatis
berfungsi untuk memulai, mempertahankan, atau mengukuhkan pembicaraan. Jenis
kata ini lazim digunakan dalam bidang dialog atau wawancara. Misalnya: ah, ayo,
kok, mari, nah, dan yah.
Contoh:
a. Kita
memiliki kekayaan budaya. Ayo, kita tingkatkan produktivitas kita menjadi
produk baru selera dunia.
b. Nah,
seruan itulah yang aku tunggu-tunggu.
13. Interjeksi
Interjeksi
berfungsi untuk mengungkapkan perasaan, terdiri atas dua jenis:
1. Bentuk
dasar: aduh, eh, idih,ih, wah, dan sebagainya.
a.
Aduh,
mengapa Anda harus menghadapi masalah seberat itu.
b.
Wah,
saya merasa amat tersanjung dengan sambutan ini.
2. Bentuk
turunan: alhamdulillah, astaga, brengsek, insya Allah, dan sebagainya.
a.
Alhamdulillah,
ekonomi Negara kita berangsur-angsur membaik.
b.
Astaga,
gedung itu dibom oleh teroris.
BAB 3
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Berdasarkan urayan di
atas dapat di simpulkan bahwa kata dapat di
kategorikan/diklasifikasikan berdasarkan makna, tujuan dan penempatan dengan
berfariasinya macam kata imbuhan dan kata sambung yang bisa kolaborasikan secara
tekstual dan pelafalan, dan kelas kata atau ketegori kata dapat kita di bedakan sebagai
berikut:
kategorikan/diklasifikasikan berdasarkan makna, tujuan dan penempatan dengan
berfariasinya macam kata imbuhan dan kata sambung yang bisa kolaborasikan secara
tekstual dan pelafalan, dan kelas kata atau ketegori kata dapat kita di bedakan sebagai
berikut:
a. Kelas
Nomina
b. Kelas
Verba
c. Kelas
Numerlia
d. Kelas
Adverbia
e. Kelas
pronominia
f. Kata
tugas
Sejauh ini Kelas
Kata/kategori Kata diketahui sebagai mana yang telah terurai, namun
sesuai perkembangan kata bisa jadi akan berubah sesuai dengan tiori yang di sepakati oleh
ahli bahasa Indonesia.
sesuai perkembangan kata bisa jadi akan berubah sesuai dengan tiori yang di sepakati oleh
ahli bahasa Indonesia.
2.
Saran
a. Jika tidak ada kelayakan dalam penulisan yang dapat di manfaatkan mohon di maklumi
b. Apabila dalam uraian ada yang kurang, alangkah baiknya penulisan ini dapat digunakan
sebagai bahan pertimbangan.
a. Jika tidak ada kelayakan dalam penulisan yang dapat di manfaatkan mohon di maklumi
b. Apabila dalam uraian ada yang kurang, alangkah baiknya penulisan ini dapat digunakan
sebagai bahan pertimbangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar