Sabtu, 08 Oktober 2016

Makalah_kelas kata

MAKALAH BAHASA INDONESIA
TENTANG
KELAS KATA







Oleh                : Mochammad Koko Zakaria
Sekolah           : SMK AL-Huda Turalak



KATA PENGANTAR

Tiada kata dan tindakan dengan ketulusan hati untuk diungkapkan selain ungkapan syukur dan pujian kepadaTuhan yang maha Esa, kerena berkat pertolongan-Nya kami dapat menyelesaikan tugas Makalah yang berjudul  “Kelas Kata atau Kategori Kata”. 
Sebagai manusia biasa yang tidak akan luput dari kesalahan dan kekeliruan, saya sadar akan penulisan ini terdapat kesalahan, ketidak lengkapan, atau kekurangan. Maka saya sebagai penulis mohon partisipasinya guna mengoreksi penulisan ini agar lebih layak dan dapat di terima oleh halayak banyak.  Kritik  dan  saran yang membangun pada yang mendekati kesempernaan dalam makalah saya (Kelas Kata atau Kategori Kata). 
Akhir kata hanya kepada-Nyalah kami mengharap agar malakalah ini dapat bermanfaat dan dapat di manfaatkan dalam kebaikan. Amin.

Ciamis, 21 Juli 2016


penulis








BAB 1
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Kelas kata menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kelas atau golongan (kategori) kata berdasarkan bentuk, fungsi atau maknanya. Untuk menyusun  kalimat yang baik dan benar, pemakai bahasa harus mengenal jenis dan fungsi kata.
Hal yang menyebabkan kalimat menjadi  bidang kajian bahasa yang penting tidak lain karena melalui kalimatlah seseorang dapat menyampaikan maksudnya dengan jelas. Satuan bahasa yang sudah kita kenal sebelum sampai pada tataran kalimat adalah kata (misalnya tidak) dan frasa atau kelompok kata. Kedua bentuk itu, kata dan frasa, tidak dapat mengungkapkan suatu maksud dengan jelas, kecuali jika keduanya sedang berperan sebagai kalimat. Untuk dapat berkalimat dengan baik, perlu kita pahami terlebih dahulu struktur dasar suatu kalimat.
Kalimat adalah bagian ujaran yang mempunyai struktur minimal subyek (S) dan predikat (P) dan intonasinya menunjukkan bagian ujaran itu sudah lengkap dengan makna. Intonasi final kalimat dalam bahasa tulis adalah berupa tanda baca titik (.), tanda tanya (?), atau tanda seru (!). penetapan struktur minimal subyek dan predikat dalam hal ini menunjukkan bahwa kalimat bukanlah semata-mata gabungan atau rangkaian kata yang tidak mempunyai kesatuan bentuk. Lengkap dengan makna menunjukkan sebuah kalimat harus mengandung pokok pikiran yang lengkap sebagai pengungkap maksud penuturannya.

v  Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan diatas, maka diajukanlah suatu rumusan masalah sebagai berikut :
a.       Apa penting pengklasifikasian kata dalam bahasa Indonesia? 
b.      Seberapa penting menguasai kelas kata dalam bahasa Indonesia? 

v  Tujuan
Sesuai dengan rumusan masalah diatas, secara umum tujuan makalah ini adalah sebagai berikut :
a.       Untuk bisa mengklasifikasikan kata dalam bahasa Indonesia 
b.      Untuk bisa menguasai kelas kata dalam bahasa Indomesia 


BAB 2
PEMBAHASAN

1.      KELAS KATA
            Kelas kata (jenis kata) adalah golongan kata dalam suatu bahasa berdasarkan kategori bentuk, fungsi, dan makna dalam sistem gramatika. Untuk menyusun kaimat yang baik dan benar, pemakaian bahasa harus mengenal jenis dan fungsi kata.

Fungsi kelas kata:
a.  Melambangkan pikiran atau gagasan yang abstrak menjadi konkret,
b.  Membentuk bermacam-macam struktur kalimat,
c.  Memperjeas makna gagasan kalimat,
d.  Membentuk satuan makna sebuah frasa, klausa, atau kalimat,
e.  Membentuk gaya pengungkapan sehingga menghasilkan karangan yang dapat dipahami dan dinikmati oleh orang lain,
f.  Mengungkapkan berbagai jenis ekspresi, antara lain: berita, perintah, penjelasan, argumentasi, pidato-pidato dan diskusi,
g.  Mengungkapkan berbagai sikap, misalnya: setuju, menolak, dan menerima.

Kelas kata bahasa indonesia :
1.      Verba
Berdasrkan bentuk kata (morfologis), verba dapat dibedakan menjadi :
1) Verba dasar (tanpa afiks), misalnya : makan, pergi, minum, duduk, dan tidur.
2)  Verba Turunan terdiri dari :
a)  Verba dasar + afiks (wajib), misalnya: menduduki, mempelajari, menyanyi.
b)  Verba dasar + afiks (tidak wajib), misalnya: (mem)baca, (men)dengar, (men)cuci.
c)  Verba dasar (terikat afiks) + afiks (wajib), misalnya: bertemu, bersua, mengungsi.
d)  Duplikasi atau bentuk ulang, misalnya: berjalan-jalan, minum-minum.
e)  Majemuk, misalnya cuci mata, naik haji, belai kasih.
Berdasarkan Fungsi, Verba digolongkan sebagai berikut :
a)  Verba sebagai objek
b)  Verba sebagai subjek
c)  Verba sebagai pelengkap
d)  Verba sebagai keterangan



2.      Adjektif
Adejktiva ditandai dengan dapat didampingkannya kata lebih, sangat, agak, dan paling. Berdasarkan bentuknya, adjektiva dibedakan menjadi:
a) Adjektiva dasar, misalnya: baik, adil, dan boros.
b) Adjektiva turunan, misalnya; alami, baik-baik dan sungguh-sungguh
c) Adjektiva paduan kata (frasa) ada dua macam yaitu :
1)      Subordinatif, jika salah satu kata menerangkan kata lainnya, misalnya: Panjang tangan, buta warna, murah hati.
2)      Koordinatif, setiap kata tidak saling menerangkan, misalnya: gemuk sehat, cantik jelita, dan aman sentosa.

3.      Nomina
Nomina adalah ditandai dengan tidak dapatnya bergabung dengan kata tidak, tetapi dapat dinegatifkan dengan kata bukan, contoh : tidak kekasih seharusnya bukan kekasih. Nomina dapat dibedakan sebagai berikut :
1) Berdasarkan bentuknya, nomina dibedakan atas :
a. Nomina dasar, misalnya: rumah, orang, burung, dan sebagainya
b. Nomina turunan :
Ke-                    : Kekasih, kehendak
Per-                   : Pertanda, Persegi
Pe-                    : petinju, petani
Peng-                : pengawas, pengacara
-an                     : tulisan, bacaan
Peng-an             : penganiayaan, pengawasan
Per-an               : persatuan, perdamaian
Ke-an                : kemerdekaan, kesatuan
2) Berdasarkan subkategori
a.       Nomina bernyawa (contoh: kerbau, sapi, manusia) dan tidak bernyawa (contoh: bunga, rumah, sekolah)
b.      Nomina terbilang (contoh: lima orang mahasiswa, tiga ekor kuda) dan tak terbilang (contoh: air laut, awan)

4.      Pronomina
Pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu ke nomina lain, berfungsi untuk mengganti nomina. Ada 3 macam Pronomina, yaitu:
1.      Pronomina persona adalah pronomina yang mengacu kepada orang.
2.      Pronomina petunjuk: pronomina petunjuk umum ialah, ini, itu, dan anu;    Pronomina petunjuk tempat sini, sana, situ.
3.      Pronomina penanya adalah Pronomina yang digunakan sebagai pemarkah (Penanda)
pertanyaan. Dari segi makna, ada tiga jenis yaitu :
·         Orang siapa.
·         Barang apa menghasilkan turunan mengapa, kenapa, dengan apa.
·         Pilihan mana menghasilkan turunan di mana, ke mana, dari  mana, bagaimana dan bilamana.

5.      Numeralia
Numeralia dapat diklasifikasikan berdasarkan Subkategori :
1.  Numeralia takrif (tertentu) terbagi atas :
a.       Numeralia pokok ditandai dengan jawaban Berapa? Satu, dua, tiga, dst.
b.      Numeralia tingkat ditandai dengan jawaban Yang ke berapa?
c.       Numeralia Kolektif ditandai dengan satuan bilangan, misalnya: lusin, kodi, meter.
2. Numeralia tak takrif (tak tentu), misalnya: beberapa, berbagai, segenap.

6.      Adverbia
Adverbia adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adjektiva, nomina predikatif, atau kalimat. Dalam kalimat, adverbia dapat didampingi adjektiva, numeralia, atau proposisi.
Berdasarkan bentuknya, adverbia terbagi atas :
1.Bentuk tunggal (monomofermis): sangat, hanya, lebih, segera, agak, dan akan. Misalnya :
a.       Orang itu sangat bijaksana.
b.      Ia hanya membaca satu buku, bukan dua.
2. Bentuk jamak (polimofermis) : belum tentu, benar-benar, jangan-jangan, kerap kali, lebih-lebih, mau tidak mau, mula-mula. Misalnya :
a.       Mereka belum tentu pergi hari ini.
b.      Mereka benar-benar mendatangai perpustakaan kampus.

7.      Interogative
Interogavita berfungsi menggantikan sesuatu yang hendak diketahui oleh pembicara atau mengukuhkan sesuatu yang telah diketahuinya. Contoh: apa, siapa, berapa, mana, yang mana, mengapa, dan kapan.
Misalnya:
a. Berapa uang yang kau perlukan?
b. Yang mana rumah orang itu?

8.      Demontrativa
Demonstrativa berfungsi untuk menunjukkan sesuatu di dalam atau di luar wacana. Sesuatu tersebut disebut anteseden. Contoh: ini, itu, di sini, di situ, berikut, dan begitu.
Misalnya:
a. Di sini, kita akan berkonsentrasi menghasilkan karya terbaik kita.
b. Bukti ini merupakan indikator bahwa orang itu berniat baik.

9.      Artikula
Artikula berfungsi untuk mendampingi nomina dan verba pasif. Contoh: si, sang, sri, para, kaum, dan umat.
Misalnya:
a. Si Kecil itu selalu datang merengek-rengek minta sesuatu.
b. Sang penyelamat akan datang saat kita perlukan.

10.  Proposisi
Preposisi adalah kata yang terletak di depan kata lain sehingga berbuntuk frasa atau kelompok kata.
1. Preposisi dasar: di, ke, dari, pada, demi, dan lain-lain.
Contoh: Demi kemakmuran bangsa, mari kita tegakkan hukum dan keadilan.
2. Preposisi turunan: di antara, di atas, ke dalam, kepada, dan lain-lain.
Contoh: Di antara calon peserta lomba terdapat nama seorang peserta yang sudah menjadi juara selama dua tahun.

11.  Konjungsi
Konjungsi berfungsi untuk menghubungkan bagian-bagian kalimat atau kalimat yang satu dengan kalimat lain dalam suatu wacana. Konjungsi dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
1. Konjungsi intrakalimat: agar, atau, dan, hingga, sedang, sehingga, serta, supaya, tetapi, dan sebagainya. Contoh:
a.       Ia belajar hingga larut malam.
b.      Mereka bekerja keras sehingga berhasil mendapatkan cita-citanya.
2. Konjungsi ekstrakalimat : jadi, di samping itu, oleh karena itu, oleh sebab itu, dengan demikian, walaupun demikian, akibatnya, tambahan pula, dan sebagainya. Contoh :
a.       Pengusaha itu karya dan dermawan. Oleh karena itu, ia dihormati oleh tetangga di sekitar rumahnya.
b.      Kualitas pendidikan kita tertinggal dari negara maju. Oleh sebab itu, kita harus bekerja keras untuk mengejar ketinggalan ini.

12.  Fatis
Fatis berfungsi untuk memulai, mempertahankan, atau mengukuhkan pembicaraan. Jenis kata ini lazim digunakan dalam bidang dialog atau wawancara. Misalnya: ah, ayo, kok, mari, nah, dan yah.
Contoh:
a. Kita memiliki kekayaan budaya. Ayo, kita tingkatkan produktivitas kita menjadi produk baru selera dunia.
b. Nah, seruan itulah yang aku tunggu-tunggu.

13.  Interjeksi
Interjeksi berfungsi untuk mengungkapkan perasaan, terdiri atas dua jenis:
1. Bentuk dasar: aduh, eh, idih,ih, wah, dan sebagainya.
a.       Aduh, mengapa Anda harus menghadapi masalah seberat itu.
b.      Wah, saya merasa amat tersanjung dengan sambutan ini.
2. Bentuk turunan: alhamdulillah, astaga, brengsek, insya Allah, dan sebagainya.
a.       Alhamdulillah, ekonomi Negara kita berangsur-angsur membaik.
b.      Astaga, gedung itu dibom oleh teroris.


BAB 3
PENUTUP

1.      Kesimpulan 
Berdasarkan urayan di atas dapat di simpulkan bahwa kata dapat di
kategorikan/diklasifikasikan berdasarkan makna, tujuan dan penempatan dengan
berfariasinya macam kata imbuhan dan kata sambung yang bisa kolaborasikan secara
tekstual dan pelafalan, dan kelas kata atau ketegori kata dapat kita di bedakan sebagai
berikut: 
a.  Kelas Nomina 
b.  Kelas Verba 
c.  Kelas Numerlia 
d.  Kelas Adverbia 
e.  Kelas pronominia 
f.  Kata tugas 
Sejauh ini Kelas Kata/kategori Kata diketahui sebagai mana yang telah terurai, namun
sesuai perkembangan kata bisa jadi akan berubah sesuai dengan tiori yang di sepakati oleh
ahli bahasa Indonesia.

2.      Saran 
a.  Jika tidak ada kelayakan dalam penulisan yang dapat di manfaatkan mohon di maklumi
b.  Apabila dalam uraian ada yang kurang, alangkah baiknya penulisan ini dapat digunakan
sebagai bahan pertimbangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar